![]() |
| Foto/ThinkTalk |
JAKARTA, H OS LAW FIRM - ThinkTalk kembali mengadakan diskusi sesi ke-3 yang
mengangkat tema hangat: “AI, Manusia, dan Batas-Batas Ketergantungan
Teknologi”.
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah
membawa efisiensi nyata—membantu pengolahan data, pencarian informasi, hingga
efisiensi kerja harian. Namun, kemudahan ini menyimpan celah risiko, di mana
manusia berisiko menjadi terlalu bergantung dan menerima informasi AI secara
mentah tanpa evaluasi kritis.
Diskusi interaktif ini dipandu oleh Kristina Purba, S.Pd.
selaku moderator, dengan menghadirkan Hanter Siregar sebagai pemantik
diskusi untuk mendiskusikan tuntas batasan ideal antara pemanfataan teknologi
dan pemikiran kritis manusia.
AI telah mengubah cara manusia bekerja. AI dapat membantu
mencari informasi, merangkum dokumen, menganalisis data, menghasilkan ide,
hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Karena itu, penggunaan AI secara bijak dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko: kita dapat
menjadi terlalu bergantung pada jawaban AI dan menerima informasi tanpa
memeriksanya terlebih dahulu.
Masalah utama di era AI bukan lagi sekadar bagaimana
mendapatkan informasi, tetapi bagaimana menentukan apakah informasi tersebut
layak dipercaya. AI mampu menghasilkan teks, gambar, audio, dan video yang
terlihat sangat meyakinkan, padahal isinya belum tentu benar. Informasi yang
ditulis dengan bahasa profesional tidak otomatis menjadi fakta. Sebaliknya,
informasi yang dibuat dengan bantuan AI juga tidak selalu salah. Yang paling
penting adalah bagaimana informasi tersebut dapat diverifikasi.
Karena itu, kita perlu membangun kebiasaan, stop share, cek dulu, bandingkan dan baru putuskan. Kita perlu berhenti sejenak sebelum mempercayai informasi, kemudian memeriksa siapa sumbernya, kapan informasi tersebut dibuat, apa sumber aslinya, serta apakah terdapat data dan bukti yang mendukung. Setelah itu, informasi perlu dibandingkan dengan sumber independen, termasuk sumber yang memberikan sudut pandang berbeda. Barulah kita menentukan apakah informasi tersebut cukup dapat dipercaya untuk digunakan atau dibagikan.
![]() |
| Foto/Tangkapan Layar- (Diskusi ThinkTalk Sesi #3: “Bekerja di Era AI: Memanfaatkan AI Tanpa Kehilangan Kemampuan Berpikir Kritis”, via Google Meet, 20 September 2026). |
AI juga sebaiknya tidak hanya digunakan sebagai alat untuk
membuat laporan atau presentasi, tetapi sebagai partner untuk menguji
pemikiran. Kita dapat meminta AI mengidentifikasi klaim yang membutuhkan
verifikasi, menemukan asumsi dalam suatu analisis, memisahkan fakta dari opini,
atau memberikan argumen yang berlawanan dengan kesimpulan yang telah dibuat.
Suasana diskusi ThinkTalk kian hangat saat Hendra
Sinurat, salah satu peserta, melontarkan poin krusial: persoalan utama
teknologi bukan lagi soal efisiensi, melainkan bagaimana AI mulai mengambil
alih cara kita mengambil keputusan.
Hendra memberikan analogi yang kerap kita alami sehari-hari.
Seseorang yang ingin bepergian dari titik A ke titik B memilih mengandalkan
Google Maps, padahal rute tersebut adalah rute yang sangat ia kenal. Ketika
ingatannya menyuruh belok kanan, namun aplikasi mengarahkannya ke kiri, ia
justru mengabaikan insting serta pengalamannya sendiri demi mengikuti instruksi
teknologi. Hal ini menjadi pengingat kritis: sejauh mana kita telah menyerahkan
kendali pikir kita kepada navigasi buatan?
Situasi sederhana tersebut menggambarkan persoalan yang lebih
besar. Jangan sampai AI yang awalnya kita gunakan sebagai alat bantu justru
secara perlahan mengambil alih kemampuan kita untuk menilai. Kita bahkan dapat
membayangkan bahwa keputusan yang bersifat emosional, personal, dan menyangkut
kehidupan kita sendiri mulai diserahkan kepada AI karena kita menganggap
jawabannya lebih objektif atau lebih tepat.
Padahal, AI dapat mensimulasikan empati dan pemahaman, tetapi
AI tidak memiliki pengalaman hidup manusia secara utuh. AI tidak memiliki
kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman, hubungan afektif dan relasional,
maupun dimensi spiritual manusia. Karena itu, jawaban AI yang tampak sesuai
dengan suatu kondisi belum tentu merupakan jawaban yang paling tepat bagi
kehidupan seseorang.
Dalam konteks ini, AI sebaiknya tidak dipandang sebagai
sesuatu yang sepenuhnya baik atau buruk. Yang diperlukan adalah pendekatan yang
terukur dan waspada. AI dapat menjadi alat yang sangat berharga, tetapi
penggunaannya tetap membutuhkan penilaian manusia.
Saya sendiri cukup sering menggunakan AI dalam pekerjaan,
terutama untuk membantu menyusun draft gugatan, surat, atau dokumen lainnya.
Sering kali gagasan sebenarnya sudah ada di kepala, tetapi sulit dituangkan
menjadi rangkaian kalimat yang sistematis. AI kemudian membantu menjembatani
proses tersebut. Saya memasukkan gagasan yang masih kasar ke dalam prompt,
kemudian AI membantu menyusun uraian yang lebih terstruktur. Jika hasilnya
sesuai, saya gunakan sebagai bahan awal, tetapi tetap saya periksa dan
sesuaikan kembali.
Dalam posisi tersebut, AI membantu saya menyampaikan apa yang
sudah saya pikirkan. AI bukan pihak yang menggantikan proses berpikir tersebut.
Karena itu, menurut saya, penggunaan AI yang sehat adalah ketika teknologi
memperkuat kemampuan manusia, bukan ketika manusia menyerahkan kemampuan
berpikirnya kepada teknologi.
Kita juga tidak dapat menutup diri dari perkembangan AI. AI sudah menjadi bagian dari dunia kerja, informasi, dan kehidupan sosial. Menolak sepenuhnya penggunaan AI justru dapat membuat kita tertinggal dari perkembangan masyarakat. Ketika masyarakat semakin menggunakan AI, kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi juga menjadi bagian dari kemampuan untuk tetap berada dalam lingkungan sosial tersebut.
![]() |
| Foto/Tangkapan Layar- (Diskusi ThinkTalk Sesi #3: “Bekerja di Era AI: Memanfaatkan AI Tanpa Kehilangan Kemampuan Berpikir Kritis”, via Google Meet, 20 September 2026). |
Diskusi berlanjut semakin mendalam lewat tanggapan peserta
lainnya, Alboin C. Samosir. Ia menekankan bahwa tantangan terbesarnya
adalah bagaimana kita menjaga batas tipis antara memanfaatkan teknologi dan
terjerumus dalam ketergantungan.
Untuk menggambarkan isu mendasar ini, Alboin mengambil
ilustrasi menarik dari film Mickey 17. Dalam film tersebut, teknologi
canggih mampu mereplikasi dan melahirkan kembali manusia berdasarkan basis data
dan rekaman ingatan. Proses ini terus berulang hingga tercipta Mickey ke-17.
Namun, ketika Mickey ke-17 dikira tewas dan Mickey ke-18 mendadak diciptakan,
muncul sebuah pertanyaan eksistensial yang sangat mendasar: di tengah gempuran
duplikasi teknologi, siapa sebenarnya Mickey yang asli?
Menariknya, meskipun Mickey ketujuh belas dan kedelapan belas
dibentuk berdasarkan data dan teknologi yang sama, perilaku, keputusan, dan
respons keduanya dapat berbeda. Dari sini muncul pertanyaan penting: apakah
manusia hanya merupakan kumpulan data yang dapat disalin? Atau ada sesuatu yang
lebih dari sekadar data yang membentuk identitas seseorang?
Pertanyaan tersebut relevan dengan perkembangan AI saat ini.
Manusia tidak hanya dibentuk oleh informasi yang tersimpan tentang dirinya,
tetapi juga oleh pengalaman, hubungan, konteks, emosi, kebijaksanaan, dan
berbagai pengalaman hidup yang tidak mudah direduksi menjadi data.
Kekhawatiran mengenai AI juga sering dikaitkan dengan
kemungkinan menurunnya kemampuan kognitif manusia. Namun, menurut saya,
persoalan ini tidak sesederhana itu. Kita sedang berada dalam masa transisi
dari model kehidupan yang konvensional menuju kehidupan yang semakin
terintegrasi dengan AI. Generasi yang sebelumnya tumbuh tanpa AI sudah memiliki
pengalaman membaca, menulis, mengingat, menghitung, dan berpikir secara
konvensional. Karena itu, dampak AI terhadap generasi tersebut mungkin berbeda
dengan dampaknya terhadap anak-anak yang sejak kecil tumbuh bersama AI.
Baca Juga: Tentang Kesetiaan, Kepercayaan, dan Tanggung Jawab dalam Perkawinan: Catatan dari Perkara Perceraian
Ukuran tentang kecerdasan manusia pun selalu berubah. Dahulu,
anak yang sudah mampu membaca pada kelas awal sekolah dasar dapat dianggap
sangat pintar. Sekarang, kemampuan membaca sejak taman kanak-kanak sudah
relatif biasa. Artinya, standar kemampuan manusia dapat berubah mengikuti
perkembangan zaman.
Karena itu, saya justru lebih tertarik melihat persoalan AI
dari sisi perilaku, etika, norma, dan keadaban. Teknologi berkembang dengan
sangat cepat, sementara perkembangan etika sering kali tidak berjalan dengan
kecepatan yang sama. Kita dapat mengikuti perkembangan teknologi, tetapi belum
tentu memiliki kesiapan moral yang memadai untuk menggunakannya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya
apakah AI akan membuat manusia lebih atau kurang cerdas. Pertanyaan yang lebih
mendasar adalah: manusia seperti apa yang akan kita bentuk ketika hidup
berdampingan dengan AI?
AI seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan
menggantikannya. Di era ketika informasi dapat dibuat dengan sangat mudah,
kemampuan yang semakin penting bukan hanya kemampuan menemukan informasi,
tetapi kemampuan menilai informasi. Karena itu, AI literacy harus
berjalan bersama information literacy dan critical thinking.
Lebih jauh lagi, kita perlu memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak membuat manusia kehilangan kemampuan untuk menilai, merasakan, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan secara mandiri. Sebab, tantangan terbesar AI mungkin bukan apakah teknologi dapat berpikir seperti manusia, melainkan apakah manusia masih bersedia berpikir sebagai manusia.
Sumber Referensi:
Sesi diskusi ThinkTalk ke-3 bertajuk “Bekerja di Era AI: Memanfaatkan AI Tanpa Kehilangan Kemampuan Berpikir Kritis” yang diselenggarakan secara daring via Google Meet pada 20 September 2026.



Comments
Post a Comment