JAKARTA, H OS LAW FIRM - Perubahan
iklim dan kerusakan lingkungan semakin sering kita dengar. Kita membaca tentang
suhu bumi yang meningkat, cuaca ekstrem, hutan yang berkurang, pencemaran laut,
hingga ancaman terhadap berbagai jenis makhluk hidup.
Berbagai solusi juga terus
ditawarkan. Mulai dari menggunakan energi terbarukan, mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil, mengurangi konsumsi daging, sampai menggunakan produk yang
lebih ramah lingkungan.
Semua langkah tersebut tentu
penting. Namun, menghadapi persoalan lingkungan mungkin tidak cukup hanya
dengan mengubah teknologi atau kebiasaan sehari-hari. Kita juga perlu mengubah
cara berpikir tentang hubungan manusia dengan alam.
Lima buku berikut menawarkan sudut
pandang yang menarik. Buku-buku ini mengajak kita melihat alam bukan sekadar
sebagai sesuatu yang harus dimanfaatkan atau dilindungi, tetapi sebagai bagian
penting dari kehidupan manusia.
1. Gaia – James Lovelock
Dalam buku Gaia yang terbit
pada 1979, James Lovelock menawarkan gagasan bahwa bumi bukan hanya sebuah
tempat yang menjadi rumah bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.
Bumi dapat dilihat sebagai sebuah
sistem yang saling berhubungan. Berbagai unsur di dalamnya, seperti atmosfer,
laut, tanah, tumbuhan, hewan, dan manusia, saling memengaruhi.
Pandangan ini membantu kita
memahami bahwa perubahan pada satu bagian bumi dapat berdampak pada bagian
lainnya.
Yang menarik, gagasan Lovelock juga
membuka pertanyaan yang lebih luas. Jika manusia merupakan bagian dari sistem
bumi, lalu bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di dalamnya?
Pertanyaan ini tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga
dengan nilai, keyakinan, dan cara manusia memandang dirinya sendiri.
2. Should Trees Have
Standing? – Christopher D. Stone
Bayangkan jika sebuah sungai,
hutan, atau pohon memiliki hak yang diakui oleh hukum. Gagasan seperti ini
terdengar tidak biasa, tetapi itulah pertanyaan yang diajukan Christopher D.
Stone.
Dalam bukunya, Stone mempertanyakan
mengapa hukum hanya memberikan hak kepada manusia dan organisasi tertentu,
sementara alam sering kali hanya dianggap sebagai objek yang dapat dimiliki dan
digunakan.
Menurut gagasannya, unsur-unsur
alam seperti sungai, hutan, dan pohon seharusnya dapat memiliki kedudukan
hukum.
Ide tersebut bukan lagi sekadar
teori. Beberapa negara kemudian mengembangkan aturan yang memberikan kedudukan
hukum kepada alam. Ekuador dan Bolivia, misalnya, mengakui hak alam dalam
konstitusinya. Selandia Baru juga memberikan kedudukan hukum kepada Sungai
Whanganui.
Gagasan ini membuat kita berpikir
ulang: ketika lingkungan dirusak, apakah kerugiannya hanya milik manusia, atau
alam itu sendiri juga memiliki hak yang harus dilindungi?
3. Biomimicry – Janine
Benyus
Teknologi sering dianggap sebagai
salah satu jalan keluar dari persoalan lingkungan. Namun, Janine Benyus
menawarkan pendekatan yang berbeda: belajar dari alam.
Gagasan tersebut dikenal sebagai biomimikri,
yaitu meniru cara alam bekerja untuk menciptakan teknologi atau menyelesaikan
persoalan manusia.
Alam telah melalui proses yang
sangat panjang. Tumbuhan, hewan, dan berbagai ekosistem memiliki cara
masing-masing untuk bertahan hidup dan menggunakan sumber daya secara efisien.
Karena itu, manusia sebenarnya bisa
belajar banyak dari alam. Teknologi masa depan tidak harus selalu berusaha
mengalahkan atau mengendalikan alam. Kita juga dapat menjadikan alam sebagai
guru dan sumber inspirasi.
Baca juga: Mengapa Pencarian Makna Bukanlah Tugas Sains—Atau Agama
4. Braiding Sweetgrass –
Robin Wall Kimmerer
Buku Braiding Sweetgrass
menawarkan cara lain dalam melihat hubungan manusia dan alam. Robin Wall
Kimmerer menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan kearifan masyarakat adat.
Kimmerer adalah seorang ahli
biologi sekaligus bagian dari bangsa Potawatomi. Dalam bukunya, ia menunjukkan
bahwa pengetahuan masyarakat adat dan ilmu pengetahuan modern tidak harus
dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling melengkapi.
Salah satu contoh yang dibahas
adalah sweetgrass, tanaman yang memiliki nilai penting bagi masyarakat
Potawatomi. Pengetahuan masyarakat setempat menunjukkan bahwa cara memanen
tertentu justru dapat membantu tanaman tersebut tumbuh lebih baik.
Pesan sederhananya sangat penting:
manusia bukan makhluk yang berada di luar alam. Kita adalah bagian dari alam.
Karena itu, cara kita memperlakukan lingkungan akan kembali memengaruhi
kehidupan kita sendiri.
5. The Climate of History in
a Planetary Age – Dipesh Chakrabarty
Buku karya Dipesh Chakrabarty
mengajak kita melihat perubahan iklim dari sudut pandang sejarah.
Chakrabarty membedakan cara melihat
persoalan secara “global” dan secara “planet”. Istilah global sering kali masih
menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Sementara itu, perspektif planet
mengajak kita melihat bumi sebagai sebuah sistem yang juga memiliki proses dan
kepentingan di luar kehidupan manusia.
Menurut pandangan ini, perubahan
iklim tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan manusia, industrialisasi,
teknologi, ekonomi, dan keinginan berbagai negara untuk terus tumbuh dan
berkembang.
Karena itu, persoalan perubahan
iklim bukan hanya tentang menemukan teknologi baru. Kita juga perlu
mempertanyakan pola pembangunan dan obsesi terhadap pertumbuhan yang
terus-menerus.
Mengubah cara kita memandang alam
Kelima buku tersebut memiliki
gagasan yang berbeda, tetapi semuanya mengarah pada satu hal: manusia perlu
melihat kembali hubungannya dengan alam.
Perubahan iklim memang membutuhkan
tindakan nyata. Kita perlu mengurangi emisi, menjaga hutan, mengembangkan
energi bersih, dan menggunakan sumber daya dengan lebih bijak.
Namun, perubahan yang lebih besar
mungkin dimulai dari cara kita berpikir.
Alam bukan hanya sumber makanan,
bahan baku, energi, atau tempat tinggal. Alam adalah bagian dari sistem
kehidupan yang membuat manusia dapat bertahan.
Dengan memahami hal tersebut,
menjaga lingkungan tidak lagi terasa seperti sebuah kewajiban tambahan. Menjaga
bumi menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan kita sendiri.
Sumber: The Conversation
Indonesia, “Lima buku ini bisa mengubah caramu memandang lingkungan dan
perubahan iklim”, 2 Januari 2022, karya Ti-han Chang dan Henry Dicks,
diterjemahkan oleh Rachel Noorajavi.

Comments
Post a Comment