Mengapa Hubungan Hancur dan Bagaimana Cara Memperbaikinya: Memahami Cinta, Kepercayaan, dan Komunikasi
Mengapa Hubungan Hancur
JAKARTA, H OS LAW FIRM - Hubungan biasanya tidak berakhir secara tiba-tiba, tetapi
perlahan karena kurangnya perhatian. Kesibukan, pekerjaan, anak, dan rutinitas
membuat pasangan semakin jarang menghabiskan waktu bersama. Hubungan akhirnya
berubah menjadi sekadar daftar tugas. Permainan, kesenangan, petualangan,
romansa, dan kedekatan mulai hilang. Pasangan pun menjalani “kehidupan
paralel”, seperti dua jalur kereta yang berjalan berdampingan tetapi tidak
pernah bertemu.
Ketika pasangan merasa telah kehilangan sesuatu, masalahnya
sering bukan karena konflik semata, melainkan karena cara mereka menghadapi
konflik. Mereka mungkin mulai saling mengkritik, merendahkan, bersikap
defensif, atau menutup diri. Sebaliknya, ada pasangan yang memilih diam dan
tidak membicarakan masalah sama sekali. Semua itu membuat hubungan kehilangan
energi, kedekatan, dan koneksi.
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 69% konflik dalam
hubungan merupakan masalah yang terus berulang. Masalah ini biasanya berasal
dari perbedaan kepribadian, gaya hidup, atau nilai. Pasangan yang sehat juga
memiliki masalah semacam ini, tetapi mereka menghadapinya dengan penerimaan,
humor, komunikasi, dan kompromi. Pasangan yang bermasalah justru terjebak dalam
pertengkaran yang sama dan mulai menganggap pasangannya sebagai sumber masalah.
Ada empat pola yang sangat merusak hubungan: kritik, sikap
defensif, penghinaan, dan menutup diri. Kritik menyerang kepribadian pasangan,
bukan masalahnya. Sikap defensif membuat seseorang selalu menyangkal kesalahan
dan menyalahkan balik. Penghinaan menunjukkan sikap superior dan merendahkan
pasangan. Sementara itu, menutup diri berarti berhenti merespons, tidak
melakukan kontak mata, dan bersikap seperti tembok.
Di antara semuanya, penghinaan merupakan tanda paling
berbahaya. Ketika seseorang merasa lebih tinggi dan meremehkan pasangannya,
hubungan kehilangan rasa hormat. Penghinaan tidak hanya menyakiti harga diri,
tetapi juga berkaitan dengan dampak buruk terhadap kesehatan. Karena itu,
pola-pola tersebut harus dihentikan sebelum masalah kecil berubah menjadi
kerusakan besar.
Selain itu, hubungan dapat hancur karena kepercayaan yang
terkikis. Pengkhianatan biasanya bukan peristiwa yang terjadi dalam satu malam,
melainkan proses bertahap. Seseorang mulai tidak menghargai hubungan, sering
mengeluh kepada orang lain tentang pasangannya, merasa bahwa dirinya pantas
mendapatkan sesuatu yang lebih baik, lalu mulai melanggar batas. Perselingkuhan
dapat menjadi akibat akhirnya. Ketika kepercayaan hancur, dunia yang dibangun
bersama—cinta, persahabatan, kerja sama, keintiman, dan masa depan—seolah ikut
runtuh.
Hal kecil yang juga sangat penting adalah upaya untuk
terhubung. Ketika seseorang mencoba menarik perhatian pasangannya, responsnya
bisa berupa mendekat, mengabaikan, atau bahkan merespons dengan kesal.
Penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang tetap bersama jauh lebih sering
merespons upaya koneksi dibanding pasangan yang akhirnya bercerai. Artinya, hal
sederhana seperti mendengarkan cerita pasangan, menjawab pertanyaan, atau
membantu ketika diminta sebenarnya sangat berarti.
Jika seseorang terus menjauh dari pasangan, ia dapat
mengalami kesepian. Kesepian bukan hanya masalah emosional, tetapi juga dapat
memengaruhi tubuh dan kesehatan. Karena itu, menjaga hubungan berarti juga
menjaga kesejahteraan diri.
Tidak selalu ada titik tanpa kembali. Bahkan hubungan yang
tampak sangat buruk masih mungkin diperbaiki jika masih ada rasa sayang,
penghargaan, dan kemauan untuk berubah. Namun, jika hubungan telah menjadi
tempat kekerasan, permusuhan, dan tidak ada lagi kasih sayang maupun rasa
hormat, berpisah mungkin menjadi pilihan yang lebih sehat.
Bagaimana Pasangan Memperbaiki Hubungan
Konflik dalam hubungan sebenarnya normal dan sehat. Dua orang
memiliki pengalaman, kebutuhan, dan cara berpikir yang berbeda. Perbedaan
tentang anak, liburan, keluarga, kebiasaan, atau kehidupan sehari-hari tidak
berarti hubungan tersebut gagal. Yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat
adalah kemampuan untuk memperbaiki hubungan setelah konflik.
Kepercayaan berarti tidak hanya memikirkan keuntungan diri
sendiri, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan pasangan. Ketika kepercayaan
rusak, pasangan perlu membicarakannya dan memperbaikinya, bukan mengabaikannya.
Dalam kasus perselingkuhan, pemulihan membutuhkan beberapa
tahap. Pertama, pelaku harus bertanggung jawab penuh, tidak menyalahkan
pasangan, meminta maaf, dan memahami rasa sakit yang ditimbulkan. Kedua,
pasangan perlu membangun kembali hubungan dengan komunikasi yang lebih terbuka
dan transparan. Ketiga, mereka perlu membangun kembali ikatan dan berkomitmen
terhadap hubungan.
Perbaikan merupakan salah satu kunci hubungan yang bertahan
lama. Upaya perbaikan akan berhasil jika diterima sebagai niat untuk
memperbaiki keadaan, bukan sebagai serangan baru. Salah satu cara terbaik
adalah mengakui kesalahan dan mengambil tanggung jawab atas bagian diri
sendiri. Perbaikan yang berhasil juga menghasilkan pemahaman baru tentang
pasangan dan masalah yang terjadi.
Untuk memperbaiki hubungan, seseorang perlu belajar menjadi rentan,
yaitu berani mengenali dan mengungkapkan perasaan. Perasaan dapat dikenali
melalui tubuh: rahang yang tegang mungkin menunjukkan marah atau frustrasi,
dada sesak dapat menandakan takut, dan tangan mengepal bisa menjadi tanda
kemarahan. Setelah mengenali perasaan tersebut, seseorang perlu berani
mengungkapkannya dengan jujur.
Nasihat sederhana yang sangat penting adalah: “Ketika
pasanganmu kesal, berhentilah dan dengarkan.” Tujuan konflik bukan untuk
membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan untuk memahami
satu sama lain. Ketika pasangan sedang marah atau terluka, berikan perhatian,
rasa hormat, dan kasih sayang.
Karena itu, mendengarkan adalah hadiah terbesar dalam
hubungan. Meminta maaf saja tidak cukup. Kita perlu memahami sudut pandang
pasangan dan mencoba melihat situasi dari posisi mereka. Mendengarkan dengan
sungguh-sungguh memungkinkan kedua orang memahami satu sama lain secara lebih
mendalam.
Mendengarkan aktif dengan pola “ketika kamu melakukan X, aku
merasa Y” ternyata tidak selalu efektif karena masih dapat terdengar seperti
menyalahkan. Pendekatan yang lebih baik adalah berbicara dari sudut pandang
diri sendiri: menjelaskan perasaan terhadap situasi dan kebutuhan yang ingin
dipenuhi. Dengan demikian, pasangan lebih mudah mendengar tanpa merasa
diserang.
Pada akhirnya, hubungan jangka panjang membutuhkan kasih
sayang, rasa hormat, dan kemampuan memperbaiki kesalahan. Tidak ada pasangan
yang sempurna. Kesalahan pasti terjadi. Yang penting adalah tidak membiarkan
luka menumpuk dan menciptakan jarak emosional.
Mendefinisikan Cinta
Cinta adalah awal yang penting, tetapi cinta saja tidak cukup
untuk menciptakan hubungan yang bahagia dan tahan lama. Salah satu fondasi
terpenting adalah persahabatan. Banyak hubungan romantis bermula dari
persahabatan karena persahabatan membuat pasangan benar-benar mengenal satu
sama lain.
Persahabatan berarti mengetahui kehidupan pasangan, terbuka,
membangun rasa suka dan kagum, saling menghormati, serta memperlakukan hubungan
sebagai sesuatu yang berharga. Hubungan yang kuat terlihat dari hal-hal
sederhana: pasangan tertawa bersama, menunjukkan kasih sayang, mendengarkan,
menghargai pendapat satu sama lain, dan tidak mempermalukan pasangannya.
Terakhir, cinta adalah pilihan yang dibuat berulang kali.
Jatuh cinta mungkin terasa penuh kegembiraan dan ketertarikan, tetapi kehidupan
bersama tidak selalu seperti itu. Akan ada hari-hari melelahkan, membosankan,
dan penuh masalah. Dalam keadaan seperti itulah cinta benar-benar diuji.
Memilih cinta berarti tetap memilih untuk peduli,
mendengarkan, menghormati, memperbaiki kesalahan, dan berusaha terhubung
kembali. Hubungan yang kuat bukan hubungan tanpa konflik, melainkan hubungan
yang mampu melewati konflik tanpa kehilangan kasih sayang dan rasa hormat.
Big Think. These 4 Behaviors Predict Divorce with Startling
Accuracy: Full Interview with John and Julie Gottman. Big
Think. Baca sumber asli di Big Think

Comments
Post a Comment