Batal Demi Hukum; Ketidakabsahan Perjanjian Kerja yang Bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja
We are a trusted legal partner ready to provide you with the best legal solutions. With professionalism, integrity, and high commitment, we are here to accompany you every step of the way in facing legal challenges, whether in the business, corporate, or personal legal spheres. For us, every case is a priority, every client is a partner, and every solution is designed with precision and high dedication.
JAKARTA, INDONESIA - Banyak
orang sering berkata, “Ah, saya tidak mau ikut-ikut politik.” Padahal,
kata Bertolt Brecht, orang yang buta politik justru paling berbahaya. Harga
beras, ongkos rumah, obat di apotek, bahkan nasib anak-anak—semua ditentukan
oleh politik. Diam bukan berarti netral, diam justru memberi ruang bagi
politisi busuk untuk berkuasa.
Hannah Arendt, seorang filsuf
besar abad ke-20, pernah membaca Kant dengan cara yang mengejutkan. Ia melihat
politik tersembunyi dalam bukunya Kritik atas Daya Putusan. Menurutnya, cara
kita berkata “ini indah” atau “itu jelek” mirip dengan cara kita menilai
“benar” dan “salah” dalam politik. Menilai sesuatu bukan sekadar soal selera
pribadi, tapi juga kemampuan membayangkan orang lain akan menilai hal yang
sama. Politik, dengan demikian, butuh imajinasi dan keberanian untuk membuat
putusan.
Contoh tragis datang dari Adolf
Eichmann, birokrat Nazi yang mengatur deportasi orang Yahudi ke kamp
konsentrasi. Arendt menyebutnya sebagai simbol “banality of evil”.
Eichmann bukan monster kejam, ia hanya menjalankan tugas dengan taat. Ia
berhenti berpikir, berhenti berimajinasi, berhenti menempatkan dirinya pada
posisi korban. Ia menutup hati nuraninya dan membiarkan hukum penguasa
menggantikan akal sehat.
Baca juga: Politik, Sensus Communis, dan Bahaya Tidak Berpikir
Bahaya Eichmann ada di sekitar
kita: pejabat yang patuh buta tanpa empati, birokrat yang sibuk menjalankan
aturan tanpa peduli manusia di baliknya, atau warga yang diam saja meski tahu
ada ketidakadilan. Ketidakberpikiran dan apatisme bisa jadi akar kejahatan
sosial.
Karena itu, pesan Arendt jelas:
jangan lupakan politik. Kita harus terus merawat diskusi kritis di ruang
publik, menjaga kewarasan bersama, dan menolak sikap masa bodoh. Politik memang
penuh intrik, tetapi membiarkannya tanpa kontrol rakyat hanya akan melahirkan
rezim yang sewenang-wenang.
Akhirnya, manusia adalah makhluk
politis. Kita hidup bersama orang lain, terikat dengan keputusan bersama.
Apatisme hanya akan menjauhkan kita dari kemanusiaan itu sendiri. Maka, jangan
diam. Politik adalah urusan kita semua.
By H OS LAW FIRM
Advokat/Konsultan
Hukum
Attorneys at Law – Jakarta
Comments
Post a Comment