Batal Demi Hukum; Ketidakabsahan Perjanjian Kerja yang Bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja
We are a trusted legal partner ready to provide you with the best legal solutions. With professionalism, integrity, and high commitment, we are here to accompany you every step of the way in facing legal challenges, whether in the business, corporate, or personal legal spheres. For us, every case is a priority, every client is a partner, and every solution is designed with precision and high dedication.
JAKARTA,
INDONESIA – Di Erasmus Huis, Jumat 19 September 2025, Dr.
Fitzerald K. Sitorus menyampaikan kuliah umum bertajuk “Politik, Sensus
Communis, dan Ketidakberpikiran: Arendt Membaca Kant”. Acara ini digelar
untuk memperingati 50 tahun wafatnya Hannah Arendt, filsuf politik yang dikenal
kritis terhadap totalitarianisme.
Politik
dan Sensus Communis
Hannah
Arendt melihat politik bukan sekadar soal teknis kekuasaan. Politik adalah
ruang hidup bersama. Karena itu, ia mengaitkan gagasan Kant tentang sensus
communis—kemampuan menempatkan diri pada sudut pandang orang lain—sebagai
fondasi politik.
Kant
dalam Kritik atas Daya Putusan menulis: “Menilai sesuatu sebagai indah berarti
mengklaim persetujuan semua orang, meski tanpa aturan yang baku.” Bagi Arendt,
hal ini berlaku juga dalam politik: menilai benar atau salah selalu menuntut
kemampuan membayangkan bagaimana orang lain akan menilainya.
Ketidakberpikiran
dan Banalitas Kejahatan
Dalam
bukunya Eichmann in Jerusalem, Arendt memperkenalkan istilah banalitas
kejahatan. Adolf Eichmann, birokrat Nazi yang mengatur deportasi orang Yahudi,
bukanlah monster yang penuh kebencian. Ia hanyalah pegawai patuh yang berhenti
berpikir.
Arendt
menulis: “Kejahatan terbesar di dunia mungkin dilakukan tanpa motif jahat,
tanpa keyakinan jahat, tanpa niat jahat. Kejahatan bisa lahir dari
ketidakmampuan untuk berpikir.”
Eichmann
menutup hati nuraninya dengan berlindung pada hukum penguasa. Ia tidak
membayangkan penderitaan korban. Di sinilah bahaya ketidakberpikiran: kejahatan
bisa lahir bukan dari niat jahat, tetapi dari rutinitas tanpa refleksi.
Relevansi
untuk Kita Hari Ini
Bahaya
ketidakberpikiran nyata di sekitar kita: pejabat yang taat aturan tapi abai
pada manusia, birokrat yang sibuk prosedur tapi lupa nurani, atau warga yang
memilih diam dengan alasan “tidak mau tahu soal politik”.
Peringatan
Bertolt Brecht tetap relevan: “Yang paling buta huruf adalah yang buta
politik. Ia tidak tahu bahwa harga beras, harga ikan, dan harga obat ditentukan
oleh keputusan politik.”
Apatisme
bukan sikap netral, melainkan bentuk lain dari ketidakberpikiran. Membiarkan
ruang publik kosong hanya akan memberi tempat bagi penguasa yang
sewenang-wenang.
Penutup
Arendt
menegaskan dalam The Life of the Mind: “Berpikir itu berbahaya,
tetapi tidak berpikir jauh lebih berbahaya.”
Lima
puluh tahun setelah kepergiannya, pesan Arendt tetap lantang: “jangan
melupakan politik. Politik harus dijaga dengan berpikir, berdialog, dan berani
menilai. Hanya dengan itu kewarasan publik bisa tetap terpelihara, dan
demokrasi tidak jatuh ke tangan totalitarianisme”.
By H OS
LAW FIRM
Advokat/Konsultan
Hukum
Attorneys at Law –
Jakarta
Comments
Post a Comment