Batal Demi Hukum; Ketidakabsahan Perjanjian Kerja yang Bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja
We are a trusted legal partner ready to provide you with the best legal solutions. With professionalism, integrity, and high commitment, we are here to accompany you every step of the way in facing legal challenges, whether in the business, corporate, or personal legal spheres. For us, every case is a priority, every client is a partner, and every solution is designed with precision and high dedication.
JAKARTA,
H OS LAW FIRM — Kematian seorang anak SD yang memilih
mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena sering dianggap
sebagai tragedi personal, musibah keluarga, atau sekadar akibat kemiskinan.
Padahal, jika kita mau berpikir lebih jujur, peristiwa ini adalah kejadian
politik dalam arti paling mendasar. Ia lahir dari keputusan-keputusan bersama,
dari sistem yang dibiarkan berjalan tanpa empati, dan dari sikap diam banyak
orang yang merasa urusan ini bukan tanggung jawabnya.
Banyak
orang berkata, “Ah, saya tidak mau ikut-ikut politik.” Politik dianggap kotor,
ribut, dan melelahkan. Namun seperti dikatakan Bertolt Brecht, orang yang buta
politik justru paling berbahaya. Sebab harga beras, biaya sekolah, ketersediaan
layanan kesehatan, hingga nasib anak-anak miskin bukan ditentukan oleh niat
baik semata, melainkan oleh kebijakan, anggaran, dan prioritas politik. Ketika
seorang anak merasa hidupnya tak berharga hanya karena ia tak sanggup membeli
alat tulis, itu bukan kegagalan individu. Itu adalah kegagalan keputusan
kolektif.
Di
sinilah pemikiran Hannah Arendt menjadi sangat relevan. Arendt menolak melihat
politik semata sebagai perebutan kekuasaan. Ia membaca politik sebagai ruang
penilaian moral, ruang di mana manusia diminta untuk berpikir, menimbang, dan
membayangkan diri orang lain. Ketika seseorang berkata “ini adil” atau “itu
tidak manusiawi”, ia sedang melakukan tindakan politik. Politik, bagi Arendt,
menuntut keberanian untuk membuat putusan dan keberanian untuk tidak
bersembunyi di balik aturan.
Arendt
pernah membahas Adolf Eichmann, seorang birokrat Nazi yang mengatur deportasi
jutaan orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Yang mengejutkan Arendt, Eichmann
bukanlah sosok iblis yang haus darah. Ia justru biasa saja: rapi, patuh, dan
taat prosedur. Dari sinilah Arendt memperkenalkan konsep “banality of evil”—kejahatan
yang lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari ketidakmauan untuk berpikir.
Eichmann berhenti bertanya, berhenti membayangkan penderitaan orang lain, dan
mengganti hati nuraninya dengan perintah atasan.
Jika
kita kaitkan dengan kematian anak SD tersebut, bahaya Eichmann sesungguhnya
tidak jauh dari kita. Ia hadir dalam bentuk pejabat yang sibuk mengejar laporan
tanpa melihat manusia di balik angka, birokrat yang berkata “itu bukan
kewenangan saya”, atau sistem pendidikan yang merasa sudah adil hanya karena
sekolah disebut “gratis”, meski anak-anak tetap menanggung beban yang tak
terlihat. Tidak ada satu orang yang secara langsung “membunuh” anak itu. Namun
justru di situlah letak bahayanya: kejahatan sosial sering terjadi karena semua
orang merasa tidak sepenuhnya bertanggung jawab.
Arendt
mengingatkan bahwa kejahatan besar sering berakar pada hal yang tampak sepele:
rutinitas, kepatuhan, dan sikap masa bodoh. Ketika guru melihat muridnya
tertekan tetapi menganggapnya urusan keluarga, ketika aparat desa tahu warganya
kelaparan namun memilih diam, ketika masyarakat membaca berita tragis lalu
berkata “kasihan ya” tanpa dorongan untuk bertanya lebih jauh—di situlah
politik kematian bekerja secara halus. Bukan dengan senjata, tetapi dengan ketidakberpikiran
kolektif.
Anak
itu mungkin meninggal karena tidak punya buku dan pena, tetapi secara lebih
dalam ia meninggal karena tidak ada sistem yang membuatnya merasa hidupnya
berarti. Ia tidak menemukan ruang di mana keluhannya didengar, tidak melihat
masa depan yang layak untuk diperjuangkan. Dalam bahasa Arendt, ini adalah
kegagalan ruang publik—ruang di mana manusia seharusnya saling melihat, saling
mengakui, dan saling bertanggung jawab.
Karena
itu, pesan Arendt sangat jelas dan relevan: jangan lupakan politik. Politik
bukan hanya urusan parlemen dan pemilu, tetapi urusan sehari-hari tentang
bagaimana kita menilai ketidakadilan dan berani menyebutnya salah. Politik
membutuhkan imajinasi moral—kemampuan membayangkan diri kita berada di posisi
anak itu, orang tua itu, atau warga yang paling lemah. Tanpa imajinasi ini,
hukum dan kebijakan hanya akan menjadi mesin dingin yang menggiling manusia.
Akhirnya,
kematian anak SD tersebut adalah peringatan keras bagi kita semua. Bukan hanya
bagi negara, tetapi bagi warga yang memilih diam, bagi birokrasi yang nyaman
dengan prosedur, dan bagi masyarakat yang terbiasa menganggap penderitaan orang
lain sebagai takdir. Seperti kata Arendt, manusia adalah makhluk politis. Kita
hidup bersama, dan keputusan kita—termasuk keputusan untuk diam—selalu
berdampak pada hidup orang lain.
Maka,
diam bukan sikap netral. Diam adalah pilihan politik. Dan dalam kasus ini, diam
telah ikut menyuburkan tragedi. Politik adalah urusan kita semua, karena di
sanalah kemanusiaan dipertaruhkan.
Comments
Post a Comment