Skip to main content

Menimbang “Matahari Kembar” dan Akuntabilitas Polri

Menjaga Independensi Polri di Tengah Tarikan Kekuasaan dan Tuntutan Akuntabilitas

JAKARTA, H OS LAW FIRM—Penolakan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terhadap usulan penempatan Polri di bawah kementerian kembali membuka diskusi lama tentang relasi kekuasaan, efektivitas birokrasi, dan akuntabilitas institusi penegak hukum di Indonesia. Pernyataan Kapolri yang menyebut potensi munculnya "matahari kembar" jika Polri berada di bawah kementerian menegaskan kekhawatiran akan terjadinya dualisme komando yang dapat mengaburkan arah kebijakan dan melemahkan kinerja organisasi.

Dalam konteks tata negara Indonesia, posisi Polri langsung di bawah Presiden memang merupakan hasil reformasi pasca-1998. Pemisahan Polri dari TNI dimaksudkan untuk membangun kepolisian sipil yang profesional, netral, dan tidak lagi menjadi alat kekuasaan represif. Dengan garis komando langsung ke Presiden, Polri diharapkan mampu merespons cepat berbagai persoalan keamanan dan ketertiban tanpa terhambat rantai birokrasi yang panjang.

Argumen inilah yang kembali ditegaskan Kapolri. Menurutnya, menempatkan Polri di bawah kementerian justru berpotensi menimbulkan kebingungan kewenangan. Jika kebijakan strategis datang dari Presiden, sementara kebijakan administratif dan operasional harus melalui kementerian, maka Polri bisa terjebak dalam tarik-menarik kepentingan. Dalam situasi tertentu, kondisi ini bukan hanya menghambat kinerja, tetapi juga dapat memunculkan konflik internal dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.

Namun demikian, perdebatan ini tidak bisa berhenti pada soal efektivitas semata. Dalam negara demokrasi, efektivitas harus berjalan seiring dengan akuntabilitas. Posisi Polri yang sangat kuat—langsung di bawah Presiden dan memiliki kewenangan luas, menuntut sistem pengawasan yang sama kuatnya. Kritik publik selama ini menunjukkan bahwa persoalan utama Polri bukan hanya soal struktur, melainkan juga soal transparansi, penegakan disiplin internal, dan kepercayaan masyarakat.

Di sinilah wacana menempatkan Polri di bawah kementerian sering dimaknai bukan sebagai upaya melemahkan, melainkan sebagai usaha memperkuat mekanisme pengawasan. Kementerian, sebagai bagian dari cabang eksekutif yang diawasi DPR, dinilai dapat menjadi perantara untuk memastikan kebijakan kepolisian lebih terkontrol dan sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Meski demikian, kekhawatiran Kapolri tentang "matahari kembar" juga tidak bisa diabaikan begitu saja, mengingat pengalaman birokrasi Indonesia yang kerap diwarnai tumpang tindih kewenangan.

Persoalan mendasarnya, dengan demikian, bukan sekadar memilih apakah Polri berada di bawah Presiden atau kementerian tertentu. Yang lebih penting adalah bagaimana negara membangun sistem pengawasan yang efektif, independen, dan memiliki daya paksa hukum. Lembaga seperti Komisi Kepolisian Nasional, misalnya, masih memiliki kewenangan terbatas dan lebih bersifat rekomendatif. Tanpa penguatan lembaga pengawas, posisi struktural apa pun berpotensi menimbulkan masalah yang sama.

Perdebatan tentang "matahari kembar" seharusnya menjadi pintu masuk untuk membicarakan reformasi Polri secara lebih substansial. Independensi memang penting agar Polri tidak mudah dipolitisasi. Namun, independensi tanpa akuntabilitas justru berisiko melahirkan kekuasaan yang sulit dikoreksi. Sebaliknya, pengawasan yang berlebihan tanpa kejelasan komando juga dapat melumpuhkan kinerja institusi.

Pada akhirnya, yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara kemandirian dan pengawasan. Struktur kelembagaan hanyalah alat. Tujuan utamanya tetap sama: menghadirkan Polri yang profesional, transparan, dan benar-benar bekerja untuk kepentingan hukum serta keadilan masyarakat. Dalam kerangka itulah, diskusi tentang posisi Polri semestinya terus dibuka, dengan fokus pada penguatan demokrasi dan kepercayaan publik, bukan semata pada soal siapa berada di atas siapa.

Baca juga: Kapolri Tolak Polri di Bawah Kementerian, Singgung Matahari Kembar

Comments

Popular posts from this blog

Error In Judicando dan Rusaknya Kepastian Hukum Dalam Putusan PT DKI Jakarta

JAKARTA, H OS LAW FIRM — Sepanjang karir saya  Hanter Oriko Siregar menjalani profesi sebagai advokat, baru kali ini saya menemukan sebuah keputusan pengadilan yang begitu menantang karena justru memberikan keadilan yang sebelumnya telah ditegakkan secara tepat oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dalam perkara ini tidak hanya menimbulkan kebingungan, tetapi juga menampilkan ketidakcermatan yang serius dalam penerapan hukum. Apalagi untuk melihat kekeliruan tersebut, seseorang tidak perlu membaca seluruh pertimbangan hukumnya. Cukup membaca amar putusannya saja, maka akan tampak betapa terangnya majelis hakim yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara ini telah gagal menjaga konsistensi logika hukum, kepastian hukum, dan rasa keadilan itu sendiri. Kekeliruan tersebut terlihat jelas dalam struktur amar keputusan yang saling bertentangan satu sama lain. Pada diktum pertama, Majelis Hakim menyatakan “mengabbulkan seluruh gugatan Pengg...

Lingkungan Rusak, Kita Semua Kena Dampaknya

Foto: Bencana Alam Sumatera Utara (26 November 2025) JAKARTA, H OS LAW FIRM -  Setiap kali banjir dan longsor terjadi, kita sering mendengarnya disebut sebagai "bencana alam" atau bentuk amarah dari Tuhan dan ada juga yang menyatakan bahwa mungkin ini adalah penghukuman dari Tuhan atas daerah yang terdampak bencana tersebut. Padahal, dalam banyak kasus, yang terjadi justru sebaliknya: bencana ini adalah hasil dari ulah manusia sendiri. Hutan dibuka tanpa kendali, daerah aliran sungai dirusak, lalu merasa kita heran ketika air meluap dan tanah runtuh. Rumah-rumah banyak yang hancur, korban berjatuhan dan pengungsi ada ribuan orang. Di saat itu, Alam seolah disalahkan, sementara akar masalahnya dibiarkan. Karena itu, gugatan Kementerian Lingkungan Hidup terhadap enam perusahaan di Sumatra dengan nilai Rp4,8 triliun patut dilihat sebagai langkah penting. Ini bukan sekadar urusan hukum atau angka triliunan rupiah. Ini adalah soal keberanian negara mengatakan bahwa merusak lingk...

Batal Demi Hukum; Ketidakabsahan Perjanjian Kerja yang Bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja

JAKARTA, H OS LAW FIRM — Dalam rezim hukum ketenagakerjaan Indonesia, tidak ada satu pun perusahaan yang dapat berlindung di balik dalih “kesepakatan para pihak” apabila isi perjanjian kerja bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan. Prinsip ini bukan sekadar asas moral hubungan industrial, melainkan norma imperatif yang secara tegas diperintahkan oleh Undang-Undang dan bersifat memaksa ( dwingendrecht ). Dengan demikian, setiap Perjanjian Kerja yang menyimpangi hak normatif pekerja pada hakikatnya adalah cacat hukum dan kehilangan legitimasi yuridisnya sejak awal. Dasar hukumnya sangat jelas dalam Pasal 52 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang, menentukan bahwa: “Perjanjian kerja dibuat atas dasar pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan Peraturan Perundang-Undangan yan...