Batal Demi Hukum; Ketidakabsahan Perjanjian Kerja yang Bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja
We are a trusted legal partner ready to provide you with the best legal solutions. With professionalism, integrity, and high commitment, we are here to accompany you every step of the way in facing legal challenges, whether in the business, corporate, or personal legal spheres. For us, every case is a priority, every client is a partner, and every solution is designed with precision and high dedication.
JAKARTA, H OS LAW FIRM - Di
tengah dunia yang semakin dipenuhi klaim, opini, dan keyakinan yang saling
bertabrakan, muncul pertanyaan mendasar: apa sebenarnya kebenaran itu? Apakah
sesuatu dianggap benar karena semua orang sepakat? Ataukah kebenaran ada di
luar pendapat manusia dan kita hanya perlu menemukannya?
Dalam kehidupan
sehari-hari, setidaknya ada empat jenis kebenaran dan keempatnya sering bertabrakan. Itu sebabnya mengapa kita
perlu memahami mengapa perdebatan tidak pernah selesai, kita penting mengenali
bahwa ada empat jenis kebenaran yang hidup dalam kehidupan masyarakat.
Pertama, kebenaran empiris
berdasar dan mengacu kepada data dan pengalaman, sebagai contoh api itu panas
dan air mendidih pada 100°C, fakta bisa berbeda sesuai kondisi. Maka kebenaran,
bahkan pada hal paling pasti sekalipun, tetap bergantung pada aturan, bahasa,
dan kesepakatan manusia. Karena itu, kebenaran bukan hanya ditemukan, tapi juga
dibangun.
Perlu kita pahami adalah kita
membutuhkan kedewasaan dalam berkeyakinan; pertama menggunakan kebenaran
empiris untuk ilmu pengetahuan, kedua kebenaran logis untuk berpikir jernih,
ketiga kebenaran etis untuk menjaga kemanusiaan, keempat kebenaran iman untuk
keteguhan hati—bukan memusuhi.
Jika kita memahami bahwa
setiap orang memegang bentuk kebenaran yang berbeda, kita tidak lagi perlu
memaksakan kebenaran kita seperti palu menghantam paku. Karena pada akhirnya, kebenaran
yang tidak membuat kita memanusiakan manusia lain, yang timbul justru
kehilangan kebenarannya.
Lanjut pada pertanyaan
ketiga di atas. Pertanyaan ini terlihat sepele sampai kita bermain dengan
logika paling dasar. Misalnya, 1+1 = 2. Mengapa tidak 3? Kalau semua orang
sepakat bahwa jawabannya 3, apakah itu lalu menjadi benar? Di sinilah kita
belajar bahwa tidak semua kebenaran bekerja dengan cara yang sama, seperti
kebenaran empiris, kebenaran logis, kebenaran etis dan kebenaran iman.
Kebenaran logis adalah tidak
bisa dinegosiasikan. Misalnya dalam matematika, logika, dan ilmu pengetahuan
bekerja dalam sistem yang konsisten. Jika kita memaksakan 1+1=3, bukan hanya
soal angka yang salah—seluruh bangunan ilmu akan runtuh, teknologi tidak akan
bekerja. bangunan akan roboh, uang akan kehilangan nilai, perhitungan hukum dan
ekonomi menjadi kacau. Karen itu, kebenaran logis tidak peduli mayoritas. Ia
tidak tunduk pada opini, karena bersandar pada hukum yang bisa diuji dan diverifikasi.
Kebenaran logis adalah
fondasi yang membuat dunia tetap berjalan. Ia ditentukan oleh konsistensi,
bukan oleh suara terbanyak. Berbeda dengan kebenaran konvensional, ia adalah buatan
manusia dan bisa berubah mengikuti perkembangan nilai.
Ruang lingkup kebenaran
dalam konvensional yang diciptakan oleh manusia, seperti: bahasa, adat, hukum,
kesopanan, nilai moral—semuanya bersifat kesepakatan sosial. Suatu contoh hari
ini kita tersenyum kepada orang yang tidak kita kenal sebagai salam dianggap
sopan, tapi di tempat lain mungkin dianggap penghinaan. Demikian juga uang
bernilai bukan karena kertasnya, tetapi karena kita sepakat bahwa ia bernilai.
Kebenaran sosial menjaga
manusia tetap bisa hidup bersama. Ia lentur, bisa berubah mengikuti kebutuhan
zaman. Yang berbahaya adalah ketika dua jenis kebenaran disamakan. Masalah
muncul ketika opini diperlakukan seperti fakta dan fakta diperlakukan seperti
berpendapat. Di era jaman modern ini, di mana sebagian besar kehidupan manusia sudah
menaruh perhatian dan aktivitas di media sosial:
Orang merasa "hak atas
pendapat" berarti hak untuk selalu benar dan Ilmu pengetahuan dianggap "sekadar
pandangan" serta kebohongan menjadi kebenaran karena sering diulang. Hal Ini
yang disebut post-truth yakni ketika emosi lebih berpengaruh daripada realitas.
Saat itu terjadi, kita
bukan hanya salah, kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang salah.
Untuk itu kita perlu belajar, terutama menempatkan kebenaran pada tempatnya.
Kita perlu kerendahan hati untuk menerima bahwa tidak semua kebenaran sama.
Sebagai contoh yakni
gunakan kebenaran logis saat menentukan sebab-akibat, mengambil keputusan
ilmiah dan menilai konsistensi argumen. Sedangkan kebenaran konvensional saat
gunakan untuk mengatur kehidupan sosial, membangun kesepahaman dan toleransi
dan juga menyelesaikan perbedaan nilai.
Artinya kebenaran logis
mengatur dunia, kebenaran sosial mengatur manusia. Keduanya harus bekerja
bersama, bukan saling mengalahkan. Kebenaran bukan hanya soal apa yang benar,
tetapi bagaimana hidup tetap tertata dan bermakna. Di dunia yang bising ini,
kita harus belajar untuk tegas pada fakta, bijak pada opini, rendah hati pada
batas pengetahuan kita. Karena kebenaran bukan sekadar apa yang kita yakini, melainkan
apa yang mampu menjaga kehidupan tetap berjalan dan manusia tetap manusia.
Comments
Post a Comment