Artikel Populer

Batal Demi Hukum; Ketidakabsahan Perjanjian Kerja yang Bertentangan dengan UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja

Image
JAKARTA, H OS LAW FIRM — Dalam rezim hukum ketenagakerjaan Indonesia, tidak ada satu pun perusahaan yang dapat berlindung di balik dalih “kesepakatan para pihak” apabila isi perjanjian kerja bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan. Prinsip ini bukan sekadar asas moral hubungan industrial, melainkan norma imperatif yang secara tegas diperintahkan oleh Undang-Undang dan bersifat memaksa ( dwingendrecht ). Dengan demikian, setiap Perjanjian Kerja yang menyimpangi hak normatif pekerja pada hakikatnya adalah cacat hukum dan kehilangan legitimasi yuridisnya sejak awal. Dasar hukumnya sangat jelas dalam Pasal 52 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang, menentukan bahwa: “Perjanjian kerja dibuat atas dasar pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan, dan Peraturan Perundang-Undangan yan...

Pendidikan Tinggi, Syarat Minimal Calon Pemimpin Negara

 H OS LAW FIRM

Attorneys at Law – Jakarta, INDONESIA


JAKARTA, INDONESIA - Dalam sebuah negara demokrasi, memilih pemimpin bukan semata soal elektabilitas atau popularitas. Lebih dari itu, pemimpin adalah simbol kapasitas, komitmen, dan kecakapan untuk membawa negara melangkah maju menghadapi berbagai tantangan zaman. Salah satu aspek mendasar yang patut dipertimbangkan adalah syarat pendidikan tinggi bagi calon presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.

Sayangnya, hingga hari ini, Indonesia belum menetapkan pendidikan tinggi sebagai syarat minimal konstitusional bagi calon pemimpin nasional. Hal ini patut dikritisi, mengingat tanggung jawab seorang presiden dan pejabat negara sangat kompleks: merumuskan dan menetapkan kebijakan strategis, memimpin diplomasi internasional, menyusun hukum, dan mengelola sistem pemerintahan yang melibatkan jutaan rakyat dan triliunan anggaran negara.

Syarat Pendidikan Minimal SMA bagi Capres, Cawapres, Cakada, dan Anggota Dewan Masih Relevan?

Belajar dari Dunia

Indonesia tidak perlu ragu untuk melihat praktik baik dari berbagai negara yang telah lebih dahulu menetapkan pendidikan tinggi sebagai bagian dari syarat pencalonan pejabat tinggi negara.

Turki, misalnya, melalui Konstitusinya menyebut secara eksplisit bahwa calon presiden harus berusia di atas 40 tahun dan telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Negara-negara seperti Aljazair, Azerbaijan, Tajikistan, Mesir, dan Kenya juga menetapkan hal serupa. Bahkan di Azerbaijan, bukan hanya presiden, tetapi perdana menteri, menteri, hingga kepala daerah pun harus memiliki latar belakang pendidikan tinggi.

Di Mesir, Komisi Pemilihan Nasional secara tegas mensyaratkan gelar pendidikan tinggi bagi calon presiden. Kenya, melalui konstitusi dan peraturan pemilu, juga menetapkan bahwa kandidat presiden harus memiliki gelar dari universitas yang diakui.

Sementara itu, Singapura memberikan pelajaran berbeda. Meskipun tidak menyebutkan syarat gelar akademik secara eksplisit, calon presidennya harus memiliki pengalaman strategis sebagai pemimpin institusi publik atau perusahaan besar, dengan standar integritas dan kapabilitas yang sangat tinggi. Intinya, pendidikan dan kapasitas tetap menjadi barometer utama.

Pendidikan Bukan Segalanya, Tapi Titik Awal

Tentu, pendidikan tinggi tidak serta-merta menjamin kualitas kepemimpinan. Namun, ia menjadi filter awal bahwa calon pemimpin telah melalui proses pembentukan intelektual dan berpikir sistematis. Dalam dunia yang semakin kompleks—di mana presiden tak hanya pemimpin seremonial, tetapi juga pengambil keputusan strategis nasional dan global—syarat ini menjadi penting.

Pendidikan tinggi tidak menghapus nilai-nilai lokal, kearifan budaya, atau pengalaman lapangan. Justru sebaliknya, ia memperkaya cara berpikir, memperluas cakrawala, dan membekali pemimpin dengan perangkat analisis yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan publik.

Saatnya Indonesia Bergerak Maju

Indonesia tidak kekurangan talenta. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menetapkan standar minimal kualitas pemimpin, termasuk melalui syarat pendidikan tinggi. Revisi konstitusi dan undang-undang pemilu untuk memperkuat kualitas syarat pencalonan pejabat negara harus mulai dibahas secara serius.

Ini bukan upaya menyaring rakyat dari hak memilih dan dipilih, tetapi langkah maju membangun meritokrasi dalam demokrasi. Kualitas kepemimpinan yang kuat tidak datang dari kompromi, tetapi dari keberanian membangun fondasi yang kokoh dan visioner.

Jika negara-negara lain telah menetapkan standar itu, mengapa Indonesia masih ragu?

 

H OS FIRMA HUKUM
Advokat dan Konsultan Hukum

 



Comments